
Pemeriksaan Fisik Kas
Kecil

KELOMPOK 4
Nama Kelompok :
1.
Jody Setiawan
2.
Mutiara
3.
Pajriah
4.
Purnama Alam
5.
Siti Aulia
6.
Tomy Setiawan
SMK NEGERI 2 KAB.
TANGERANG
2014/2015
A. Pendahuluan
Dalam
kehidupan sehari-hari, kas sangat penting baik di dalam rumah tangga konsumsi
maupun rumah tangga produksi (Perusahaan). Hampir setiap kegiatan dalam
perusahaan berkaitan dengan dana kas.
Karena sifatnya, antara lain
: volume fisik kecil, nilainya tetap sebesar nilai nominal) tidak adanya
identifikasi pemilikan dan sangat mudah untuk dipindah tangankan, maka untuk
mencegah terjadinya penyelewengan perlu diadakan poengawasan yang ketat
terhadap kas.
1.
Pengertian
Kas
Kas adalah
alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum
perusahaan.
Kas dapat berupa uang tunai
atau simpanan pada bank yang dapat digunakan dengan segera dan diterima sebagai
alat pembayaran sebasar nilai nominalnya.
Yang termasuk kas antara
lain :
- Uang kertas dan logam
- Chek dan Bilyet Giro
- Simpanan di bank dalam bentuk Giro
- Traveler’s Chek, yaitu cek yang dikeluarkan khusus untuk perjalanan (Turisme –Bisnis).
- Money Order, yaitu surat perintah membayar sejumlah uang tertentu berdasarkan keperluan pengguna.
- Chashier’s Chek, yaitu cek yang dibuat oleh suatu bank, untuk suatu saat dicairkan di bank itu juga.
- Bank Drafit, yaitu cek atau perintah membayar dari suatu bank yang mempunyai rekening di bank lain, yang dikeluarkan atas permintaan seseorang atau nasabah, melalui penyetoran lebih dulu di bank pembuat.
Ciri-ciri
khas adalah dapat digunakan segera sebesar nilai nominalnya. Sehingga yang
tidak dapat digunakan segera sebagai alat pembayaran dan tidak sesuai dengan
nilai nominalnya tidak dapat digolongkan sebagai Kas. Antara lain :
- Cek mundur (Past Dated Chec)
- Deoisito Berjangka (Certyificate of Deposit)
- Wesel/Promes (Notes)
- Surat Berharga (Marketable Securities)
- Kas yang disisihkan untuk tujuan tertentu dalam bentuk Dana (funds).
Misalnya disisihkan untuk pembayaran deviden,
untuk pelunasan pinjaman obnligasi dan lain-lain.
Sesuai
dengan uraian di atas, maka fungsi kas dalam suatu perusahaan sangat penting,
karena hampir setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan selalu berkaitan
dengan kas.
Tanpa kas suatu perusahaan
tidak akan berjalan dengan lancar.
2.
Pengawasan
Kas
Karena sifatnya yang mudah
dipindah tangankan dan tidak dapat dibuktikan pemilikannya, kemungkinan terjadi
penyelewengan akan besar, maka perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap kas.
Pengawasan intern perusahaan
terhadap kas antara lain dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut
:
- Dalam penerimaan uang :
1.
Menentukan
fungsi-fungsi dalam penerimaan secara jelas, dan menetapkan agar setiap penerimaan
kas segera dicatat dan disetorkan ke Bank.
2.
Mengadakan
pemisahan fungsi antara pengurus/perusahaan (penerima dan penyimpan) dengan
pencatatan kas.
3.
Mengadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi
penerimaan dan pencatatan kas.
4.
Menetapkan pelaksanaan laporan kas setiap hari.
- Dalam Perjalanan
1. Semua pengeluaran uang dalam Cek, kecuali untuk
pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2.
Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat
3.
Penulisan cek hanya dilakukan apabila didukung
bukti-bukti (dokumen-dokumen yang lengkap, atau digunakan system Voucher.
4.
Mengadakan pemisahaan antara orang-orang yang
mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek
dan yang mencatat pengeluaran kas.
5.
Melakukan pemeriksaan intern dalam waktu yang tidak tentu
6.
Menetapkan membuat laporan kas harian.
Untuk
menetapkan prinsip-prinsip pengawasan intern terhadap kas seperti tersebut di
atas, perlu :
a.
Pembentukan
Dana Kas Kecil (Petty Cash Funds)
b.
Diadakan Rekonsiliasi antara saldo kas menurut laporan
bank untuk setiap periode.
c.
Menggunakan system voucher dalam melakukan
pembayaran/pengeluaran uang.
Pemeriksaan/ Audit Kas, Bank dan Setara Kas

Berikut
Tujuan Audit Kas, Bank dan Setara Kas.
- Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas kas dan setara kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
- Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca pertanggal neraca betul-betul ada dan dimiliki oleh perusahaan
- Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan kas dan setara kas.
- Untuk memeriksa seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam valuta asing, apakah saldo tersebut sudah dikonversikan terhadap rupiah dengan menggunakan kurs dengan Bank Indonesia pada tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan atau dikreditkan ke laba rugi tahun berjalan.
- untuk memeriksa apakah penyajiannya neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Prosedur Pemeriksaan/ Audit Kas, Bank dan
Setara Kas.
- Pahami dan evaluasi pengendalian internal atas kas dan setara kas.
- Membuat Top Scedule kas dan setara kas per tanggal neraca.
- Melakukan perhitungan fisik uang kas per tanggal neraca.
- Lakukan konfirmasi atau dapat juga dengan dengan pernyataan saldo dari kasir apabila tidak dilakukan perhitungan fisik.
- Meminta rekonsiliasi bank per tanggal neraca dan lakukan pemeriksaan.
- Review jawaban konfirmasi bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk mengetahui apakah ada pembatasan dari rekening bank yang dimiliki perusahaan.
- Periksa transaksi interbank kira-kira 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca untuk mengetahui adanya kitting dengan tujuan widow dressing atau tidak.
- Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca untuk mengetahui subsequent payment dan subsequent collection sampai tanggal selesainya pemeriksaan.
- Periksa apakah perusahaan jika menggunakan mata uang asing sudah dikurs kan dengan menggunakan kurs tengah BI dan telah di catat di laba-rugi tahuin berjalan.
- Cek apakah penyajiannya telah sesuai prinsip akuntansi berlaku umum.
- Terakhir simpulkan di top schedule atau di memo tersendiri mengenai kewajaran kas dan setara kas setelah melakukan prosedur di atas.
Ciri Intern Control ( Pengendalian Internal )
yang baik atas kas dan setara kas :
- Adanya pemisahan tugas dan tanggungjawab antara yang menerima dan yang mengeluarkan kas dengan yang melakukan pencatatan, memberikan otoritas atas pengeluaran dan penerimaan kas dan bank
- Pegawai yang membuat rekonsiliasi bank harus lain dari pegawai yang mengerjakan buku bank. Rekonsiliasi bank dibuat setiap bulan dan harus ditelaah oleh kepala bagian akuntansi
- Digunakannya impress fund system untuk mengelola kas kecil
- Penerimaan kas, cek & giro harus di setor ke bank dalam jumlah seutuhnya
- Uang kas disimpan di tempat yang aman misalnya di brankas.
- Uang kas harus dikelola dengan baik yaitu jangan terjadi kas yang menganggur.
- Giro harus ditempatkan pada tempat yang aman supaya tidak disalahgunakan.
- Giro sebaiknya ditandatangani oleh minimal oleh 2 orang supaya ada kontrol dan tidak disalahgunakan.
- Kuitansi bernomor urut.
- Bukti pendukung dari pengeluaran kas yang sudah dibayar distempel lunas supaya tidak terjadi double pembayaran.
3.
Perhitungan
Uang Kas
Untuk
melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran pencatatan uang kas, perlu diadakan
penghitungan uang kas yang dapat dilakukan dengan dua cara :
a.
Pemeriksaan
saldo kas melalui catatan yang ada, yaitu saldo awal ditambah penerimaan kas dan
dikurangi pengeluaran kas.
b.
Memeriksa
saldo kas secara fisik, yaitu menghitung uang yang ada dalam kas dan menghitung
semua yang termasuk kas.
Untuk melakukan pemeriksaan
saldo kas melalui catatan yang ada, secara umum dibuat bagan sebagai berikut :
Saldo kas awal bulan ......................................................... Rp. XXX

Rp. XXX
Pengeluaran kas selama
satu bulan .................................. Rp. XXX
Saldo kas akhir bulan ........................................................ Rp. XXX -

![]() |
Pemeriksaan
saldo kas secara fisik, dilakukan dengan cara menghitung fisik uang tunai yang
ada pada brankas serta semua yang termasuk kas (cek, bilyet giro, buku simpanan
pada bank dan lain-lain)
Pemeriksaan tersebut dilakukan oleh pemeriksa,
disaksikan oleh dua orang atau lebih dan diawasi oleh akuntan (jika perusahaan
menggunakan jasa akuntan).
Perhitungan
uang kas secara fisik dapat dibuat dengan bagan sebagai berikut :
I.
Uang
Kertas :
………lembar
@ Rp. 50.000,00 = Rp. XXX
………lembar
@ Rp. 20.000,00 = Rp. XXX
………lembar
@ Rp. 10.000,00 = Rp. XXX
………lembar
@ Rp. 5.000,00 = Rp. XXX
………lembar
@ Rp. 1.000,00 = Rp. XXX
………lembar
@ Rp. 500,00 = Rp. XXX

Rp. XXX
II.
Uang
Logam :
………keping
@ Rp. 500,00 = Rp. XXX
………keping
@ Rp. 100,00 = Rp. XXX
……. . keping
@ Rp. 50,00 = Rp. XXX

Rp. XXX
III.
Lain-lain
:
1 lembar cek BBD No. ……… = Rp. XXX
1 lembar cek BRI No. ……… = Rp. XXX +



Saldo
kas menurut buku menunjukkan jumlah yang sama dengan saldo kas menurut
perhitungan secara fisik dari brankas.
Kegiatan
tersebut ditungkan dalam berita acara perhitungan uang kas.
Contoh
:
Berita Acara Perhitungan Uang Kas
“PT. COCA COLA JAKARTA”
31 Desember 1994

Saldo buku per 1
Desember 1994............................... Rp. 5.000.000,00

Rp. 366.450.000,00
Jumlah pengeluaran bulan
Desember 1994 ............... Rp. 350.227.000,00 -


Perhitungan uang kas per 31 Desember 1994
menghasilkan jumlah sebagai berikut :
I.
Uang
Kertas :
100 lembar @ Rp. 50.000,00 = Rp. 5.000.000,00
200 lembar @ Rp. 20.000,00 = Rp. 4.000.000,00
500 lembar @ Rp. 10.000,00 = Rp. 5.000.000,00
100 lembar @ Rp. 5.000,00 = Rp. 500.000,00
300 lembar @ Rp. 1.000,00 = Rp. 300.000,00
200 lembar @ Rp. 500,00 = Rp. 100.000,00

Rp. 14.905.000,00
II.
Uang
Logam :
145 Keping @ Rp. 1.000,00 = Rp. 145.000,00
300 Keping @ Rp. 500,00 = Rp. 150.000,00
100 Keping @ Rp. 100,00 = Rp. 10.000,00
200 Keping @ Rp. 50,00 = Rp. 10.000,00
100 Keping @ Rp. 25,00 = Rp. 2.500,00 +

III.
Uang
Giral (lain-lain) :

Rp. 16.222.500,00

Saldo buku kas per 31 Desember 1994 sama dengan
uang kas yang dihitung pada tanggal tersebut.
Jakarta, 31 Desember 1994
Akuntan Saksi : Petugas
Pemeriksa
1.
(Angga)
(Drs. Jati Prihatno) 2. (Bayu) (Aji
Laksono)
4.
Selisih
Kas
Dari
contoh di atas menunjukkan bahwa saldo kas menurut buku sam dengan hasil
perhitungan secara fisik, namun dalam praktek sering terdapat perbedaan.
Jika ternyata terdapat
perbedaan/selisih antara jumlah uang kas menurut buku dengan jumlah yang ada
secara fisik, perlu diadakan penelitian secara seksama,, untuk mengetahui sebab-sebab
terjadinya perbedaan tersebut :
a.
Kesalahan pencatatan ke dalam jurnal penerimaan kas
ataupun jurnal pengeluaran kas
b.
Adanya penerimaan atau pembayaran yang ada nilai recehan
(kecil), kemudian dibulatkan ke atas/ke bawah
c.
Adanya
uang palsu
d.
Sebab-sebab yang sama sekali tidak dapat diketahui
a. Jika selisih yang terjadi karena kesalahan pencatatan atau sebab-sebab
lain yang dapt diketahui, maka untuk memperbaikinya harus dibuat jurnal
perbaikan (koreksi)
Contoh :
1. Saldo rekening kas pada tanggal 31 Januari 1994 Rp. 4.570.000,-
tetapi berdasarkan perhitungan secara fisik Rp. 4.750.000,-
Setelah dilakukan penelitian, ternyata
pembelian peralatan kantor secara tunai pada tanggal 20 Januari 1994 Rp.
1.570.000,- dicatat Rp. 1.750.000,-
Kesalahan tersebut diperbaiki dengan jurnal koreksi sebagai berikut
:
Tgl.
|
Uraian
|
D
|
K
|
|
Jan
|
31
|
Kas
Peralatan
Kantor
|
Rp. 180.000,-
|
Rp. 180.000,-
|
Penjelasan : Pada waktu membeli peralatan tanggal 20 Januari 1994 harusnya
dicatat dalam jurnal pengeluaran Kas Rp. 1.570.000,- ternyata dicatat Rp. 1.750.000,-
Jadi ada kelebihan mencatat dijurnal pengeluaran kas maupun pada
rekening kas sisi kredit Rp. 180.000,- Maka untuk perbaikkannya rekening kas
harus didebit sejumlah kelebihan tersebut.
2.
Saldo
rekening kas tanggal 28 Pebruari 1994 Rp. 9.270.000,- tetapi berdasarkan
perhitungan secara fisik Rp. 9.770.000,- setelah dilakukan penelitian, ternyata
penerimaan tagihan dari seorang debitur pada tanggal 15 Pebruari 1994 Rp.
1.500.000,- dicatat Rp. 1.000.000,-
Kesalahan tersebut
diperbaiki dengan jurnal koreksi sebagai berikut :
Peb
|
28
|
Kas
Piutang
|
Rp. 500.000,-
|
Rp. 500.000,-
|
Penjelasan
: Pada waktu menerima tagihan tanggal 15 Februari 1994
harusnya dicatat dalam Penerimaan Kas Rp. 1.500.000,- ternyata dicatat Rp.
1.000.000,- berarti ada kekurangan mencatat di Jurnal Penerimaan Kas maupun
pada rekening Kas sisi Debit Rp. 500.000,-
Maka untuk perbaikannya rekening kas harus
didebit sejumlah kekurangan tersebut.
Kesimpulan : 1. Jika kesalahan mencatat terlalu besar,
perbaikannya ditulis disisi yang berlawanan sebesar kelebihan.
2. Jika kesalahan mencatat terlalu
rendah, perbaikannya ditulis disisi yang sama sebesar kekurangannya.
b. Jika selisih yang terjadi karena
sebab-sebab yang belum atau tidak diketahui harus ditampung didalam rekening
selisih Kas.
Contoh
:
1.
Saldo
rekening kas pada tanggal 31 Maret 1994 berjumlah Rp. 13.450.000,- tetapi
jumlah uang kas yang ada sebenarnya Rp. 13.464.500,- setelah diteliti tidak
ditemukan sebab-sebabnya. Maka selisihnya harus dimasukkan kerekening Selisih
Kas, melalui jurnal :
Jan
|
31
|
![]()
Selisih
Kas
|
Rp. 14.500,-
|
Rp. 14.500,-
|
||||
Kas
|
|
|
Selisih Kas
|
|||||
31/3 Rp. 13.450.000
31/3 Rp. 14.500
|
|
|
|
|
31/3
Rp. 14.500,-
|
|||
2.
Saldo
rekening kas pada tanggal 30
April 1994 Rp. 15.675.000,- ternyata uang kas yang ada sebenarnya
Rp. 15.673.400,- Setelah diteliti tidak ditemukan sebab-sebabnya. Maka
selisihnya harus dimasukkan kerekening Selisih Kas melalui jurnal :
Apr
|
30
|
Selisih Kas
![]() |
Rp. 1.600,-
|
Rp. 1.600,-
|
||||
Kas
|
Selisih Kas
|
|||||||
31/3 Rp. 15.675.000
|
30/4 Rp. 1.600
|
|
|
31/3Rp. 1.600,-
|
|
|||
Kesimpulan
: 1. Jika jumlah
uang yang ada lebih besar dari saldo rekening kas, maka kelebihan tersebut
dicatat disisi debit rekening Kas dan disisi kredit rekening Selisi Kas.
2. Jika jumlah yang ada lebih rendah dari saldo
rekening Kas, maka kekurangannya dicatat disisi kredit rekening Kas dan disisi
debit rekening Selisih Kas.
pusing ah
BalasHapusLemayan ...
BalasHapusThanks, sangat membantu..
BalasHapusJudul tentang kas kecil, materinya tentang Kas gimana sih...
BalasHapus